Keteladanan Nabi Ayyub Tema Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW DPW IKM Provinsi Bengkulu

pengurus DPW IKM antusisas ikuti ceramah ustad Deri Efendi dalam acara maulid Nabi SAW

BuliranNews. Kota Bengkulu – Keteladangan Nabi Ayyub AS yang tetap sabar, bersyukur, dan taat Kepada Allah menjadi tema utama yang disampaikan oleh ustad Deri Efendi Tuanku Sutan Bagindo dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diadakan oleh DPW Ikatan Keluarga Minang (DPW IKM) di masjid Khalifahm Rabu malam (23/11/2022)

Ketua DPW IKM Provinsi Bengkulu, Drs Bujang HR MM dalam sambutannya mengatakan 12 Rabiul Awal merupakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, banyak di antara umat muslim memperingatinya sebagai wujud rasa cinta dan kasihnya kepada Rasulullah SAW.

Read More

“Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah kegiatan rutin dari ikatan kekerabatan masyarakat minang yang ada di Provinsi Bengkulu,” kata ketua DPW IKM Provinsi Bengkulu, Bujang HR.

Ia berharap dengan peringatan maulid ini dapat menjadi momen bagi seluruh masyarakat minang untuk bersatu padu, dengan melakukan sesuatu prinsip assamaturu’ yang artinya kebersamaan.

Sementara itu ustad Deri Efendi Tuanku Sutan Bagindo yang didatangkan langsung dari Sumatera Barat dalam ceramahnya mengangkat tema keteladanan Nabi Ayyub yang tetap sabar, bersyukur, dan taat kepada Allah SWT.

Keteladanan Nabi Ayyub nyatanya menjadi salah satu kisah yang dapat menginspirasi kehidupan manusia sekarang ini. Dalam kisahnya, Nabi Ayub merupakan putra dari Nabi Ishaq. Sedangkan Nabi Ishaq sendiri ialah anak kandung Nabi Ibrahim.

Dengan begitu, Nabi Ayyub merupakan cucu langsung Nabi Ibrahim. Nabi ini bukan hanya kekayaannya saja yang kondang, melainkan kepribadiannya juga sangat luhur. Baik hati, gemar membantu fakir miskin, yatim piatu, juga selalu memuliakan tamu.

Baca Juga  Ombudsman RI Tandatangani Nota kesepahaman Dengan UMB Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik

Allah mengutusnya untuk menyeru manusia supaya taat kepada-Nya. Nabi yang Allah lapangkan hatinya untuk menerima segala cobaan ini, hidup pada tahun 1420-1540 SM. Allah menugaskan Ayyub untuk kaumnya yang berada di Huran.

Seperti yang sudah kita ketahui bahwasanya Nabi Ayyub merupakan salah satu nabi yang kaya raya. Ia mempunyai berbagai macam harta mulai dari ternak sampai pada hasil pertaniannya. Tidak hanya itu saja, melainkan ia juga mempunyai anak serta anggota keluarga yang sangat banyak.

Tetapi, dengan adanya kekayaan serta anggota keluarga yang banyak tersebut, bukan tidak mungkin jika Allah akan memberikan cobaan kepada keluarga Nabi Ayyub.

Allah memberikan cobaan kepada Nabi Ayyub berupa penyakit kulit, harta kekayaannya ditelan bumi, serta anak-anak yang meninggal.

Meskipun mendapatkan cobaan yang bertubi-tubi, untungnya istri Nabi Ayyub tetap setia untuk merawatnya. Padahal anak Nabi Ishaq ini sakit tidak hanya sehari saja, melainkan tahunan.

Banyak orang yang sebenarnya jijik melihat keadaan nabi ini. Namun tidak untuk istrinya. Kisah inilah yang menyebabkan adanya keteladanan Nabi Ayyub. Apa saja keteladanannya?

Bersyukur dan Tetap Taat

Untuk keteladanan Nabi Ayyub yang pertama adalah ia selalu bersyukur serta taat kepada Allah. Sebagai sosok laki-laki yang kaya serta terpandang di kalangan masyarakat, mempunyai banyak harta kekayaan, hewan ternak, ladang pertanian, hingga keturunan, membuatnya bersyukur.

Kekayaan yang Allah berikan kepada Nabi Ayyub dan keluarganya tidaklah membuat mereka sombong ataupun lupa terhadap kebesaran Allah.

Ia tetap bersyukur serta memberikan harta benda yang dimiliki kepada siapapun yang membutuhkan. Namun ketaatan serta rasa syukur yang sudah anak Nabi Ishaq lakukan tidaklah cukup. Karena kekayaan yang mereka miliki justru mendatangkan cobaan.

Baca Juga  Menaker RI Apresiasi Langkah Strategis Gubernur Bengkulu

Hartanya habis tidak sedikitpun tersisa. Anak keturunannya meninggal. Namun semua itu juga tidak mempengaruhi rasa syukur serta ketaatan kepada Allah SWT.

Nabi Ayyub menyadari segala hal yang terjadi itu merupakan ketetapan serta kehendak dari Allah SWT. Karena mendapatkan cobaan itulah, ketaatannya kepada Allah semakin meningkat di setiap waktunya.

Tabah dan Sabar

Keteladanan Nabi Ayyub lainnya, ia tetap tabah serta sabar ketika menghadapi berbagai macam cobaan yang diberikan oleh Allah. Nabi Ayub tertimpa penyakit kulit yang sangat parah serta menjijikkan dalam waktu bertahun-tahun.

Karena penyakitnya itulah, ia dijauhi oleh masyarakat sekitar. Bahkan cucu Nabi Ibrahim ini juga diusir dari rumahnya sendiri. Dalam suatu kisah, dijelaskan bahwasanya Ayyub bersama istrinya tinggal di tempat pembuangan sampah.

Dalam hadis riwayat Anas bin Malik radhiyallahu anhu artinya adalah “Sungguh Nabi Ayyub mendapatkan ujian berupa penyakit kulit selama 18 tahun”.

Keluarga dekat maupun jauh menolaknya kecuali dua orang laki-laki yang merupakan saudaranya. Kedua saudara tersebut juga selalu memberinya makan serta menemuinya.

Tetapi adanya penyakit yang ia derita selama belasan tahun tersebut tidak membuatnya mengeluh serta menyalahkan Allah.

Ia tetap tenang serta sabar dalam menghadapi cobaan yang datang bertubi-tubi. Ia juga percaya bahwa Allah sudah memberikan penyakit ini, pasti Allah pula yang akan menyembuhkannya.

Berdoa Kepada Allah

Nabi Ayyub berdoa kepada Allah supaya menyembuhkan penyakitnya. Inilah yang menjadi keteladanan Nabi Ayyub.

Mendengarkan doa dari hamba yang selalu taat dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah, Allah mengabulkan doanya. Allah memerintahkan kepada Ayyub untuk menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.

Setelah Ayyub menghentakkan kakinya tersebut, keluarlah mata air dari dalam tanah. Air itulah yang dapat menyembuhkan penyakitnya. Kemudian Nabi Ayyub mandi dan atas izin Allah penyakit tersebut benar-benar sembuh.

Baca Juga  Kepsek SD 19 Sukau Kayo Harapkan  Pemerintah Segera Rehab Sekolah

Menepati Janjinya

Tidak hanya itu saja keteladanan Nabi Ayyub. Ia juga menepati janjinya. Buktinya bisa kita lihat ketika dahulu, istrinya sempat pulang terlambat dan membuat marah.

Hal tersebut yang menyebabkan Nabi Ayyub bernazar untuk mencambuk istrinya sebanyak 100 kali apabila penyakitnya sudah sembuh.

Nabi Ayyub pun segera menunaikannya. Lantas mencambuk istrinya sebanyak 100 kali. Sebenarnya sebagai suami, tentunya ia tidak sanggup melakukan hal tersebut. Terlebih lagi cintanya kepada sang istri sangatlah besar.

Dalam menjalankan janjinya ini, Allah memberikan kemudahan kepada Ayyub. Allah memerintahkannya untuk mengambil seikat jerami gandum lalu ia pukulkan ke istrinya hanya satu kali.

Hal ini terdapat dalam Al-Qur’an surat Shad ayat 44. Jadikan keteladanan Nabi Ayyub di atas sebagai pedoman untuk menjalankan kehidupan. (Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *