ETIKA DALAM DUNIA DIGITAL

Oleh : WINDA NPM: D1C020003

S1 JURNALISTIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS BENGKULU

Read More

Apakah kehidupan digital perlu diatur? Tentu saja jawabannya iya, sebab sedikit-banyak kehidupan digital merepresentasikan kehidupan nyata manusia. Beragam aktivitas hidup manusia, termasuk yang berhubungan dengan orang lain (interpersonal) atau publik, yang dilakukan melalui media digital.

Tanpa adanya etika dan etiket, kehidupan digital tidak akan sustainable (berkelanjutan). Jadi dapat dikatakan bahwa etika digital merupakan kebutuhan bersama yang harus dijaga, agar kita semua tetap dapat menikmatinya sebagai representasi kehidupan nyata. Etika digital semakin dianggap jauh lebih penting ketika jumlah pengguna media digital semakin banyak.

Amanda (2021) menyebutkan bahwa jumlah warganet di Indonesia terus berkembang dari tahun ke tahun. Angka yang dikeluarkan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada semester pertama tahun 2020, mencatat kenaikan 8,9% jumlah pengguna internet di Indonesia dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Data menunjukkan bahwa 73,3% penduduk Indonesia adalah pengguna internet yang aktif. APJII juga mencatat lebih dari separuh pengguna internet di Indonesia berada di Pulau Jawa yakni sebesar 56,4 %, lalu diikuti Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara, serta Maluku dan Papua.

Berdasarkan data APJII, 95,4% pengguna internet di Indonesia menggunakan telepon pintar atau smartphone untuk mengakses internet. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat aktivitas yang paling banyak dilakukan para pengguna internet di Indonesia adalah berinteraksi melalui aplikasi chatting (29,3%) dan media sosial (24,7%).

Aktivitas lain yang dilakukan internet adalah mengakses berita, layanan perbankan, mengakses hiburan, jualan daring, belanja daring, layanan informasi barang/jasa, layanan publik, layanan informasi pekerjaan, transportasi daring, game, ecommerce, layanan informasi pendidikan, dan layanan informasi kesehatan (Bukalapak, 2020). Meningkatnya angka pengguna internet berdampak pada meningkatnya pengguna media sosial dan transaksi online.

Untuk itu kita sepatutnya mengenal bagaimana karakteristik media sosial. Media sosial memiliki lima karakteristik yakni (Banyumurti, 2019, dalam Amanda, 2021):

  • Terbuka: siapapun dimungkinkan untuk dapat memiliki akun media sosial dengan batasan tertentu, seperti usia.
  • Memiliki halaman profil pengguna. Tersedia menu profil yang memungkinkan setiap pengguna menyajikan informasi tentang dirinya sebagai pemilik akun.
  • User Generated Content. Terdapat fitur bagi setiap pengguna untuk bisa membuat konten dan menyebarkannya melalui platform media sosial.
  • Tanda waktu di setiap unggahan. Setiap unggahan yang dibuat diberi tanda waktu, sehingga bisa diketahui kapan unggahan tersebut dibuat.
  • Interaksi dengan pengguna lain. Media sosial menyediakan fitur agar kita dapat berinteraksi dengan pengguna lainnya. Aktivitas kita dalam media sosial harus diatur, baik dengan peraturan tertulis maupun tidak tertulis. Dalam negara demokratis, memang sebaiknya kehidupan media sosial tidak perlu terlalu banyak aturan tertulisnya.

Semua nilai dan norma pada kehidupan digital akan tetap terjaga selama masyarakat digitalnya memiliki literasi dan etika yang memadai dalam menggunakan media sosial. Menurut Shina (2021), setidaknya ada empat (4) pilar literasi digital, yaitu:

  • Digital skills (kecakapan digital), yang salah satunya difokuskan kepada pengetahuan dasar mengenai lanskap digital, yakni internet dan dunia maya.
  • Digital culture (budaya digital), yang salah satunya difokuskan kepada pengetahuan dasar akan nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai landasan kecakapan digital dalam kehidupan berbudaya, berbangsa, dan bernegara.
  • Digital ethics (etika digital), yang salah satunya difokuskan kepada etika berinternet (netiquette).
  • Digital safety (keamanan digital), yang salah satunya difokuskan kepada pengetahuan dasar mengenai proteksi identitas digital dan data pribadi di platform digital.

Apabila keempat pilar literasi digital tersebut kuat tertanam dalam diri setiap pengguna media sosial, maka kemungkinan kehidupan digital kita akan menjadi lebih baik dan lebih beradab (civilized).

KEMUDIAN ERA DIGITAL ITU APA? Dalam bahasa sederhana, Era digital adalah masa ketika informasi lebih mudah dan cepat diperoleh serta disebarluaskan menggunakan teknologi digital (Solihin & Suradi (Ed), 2018).

Istilah lainnya yaitu, era digital (disebut pula sebagai era informasi) merupakan sejumlah besar informasi tersedia secara luas untuk orang-orang, sebagian besar tersedia melalui teknologi komputer.

Era digital juga ditandai dengan berbagai macam kemajuan teknologi dari perangkat elektronik dan mekanik analog ke teknologi digital. Era digital juga terkait dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), yang fungsinya semakin mampu memobilisasi pengetahuan, dengan kecepatan lebih tinggi.

Menurut Haris (2016), Era Digital adalah masa dimana terjadi proses pergeseran dari ekonomi berbasis industri ke ekonomi berbasis informasi dengan menggunakan komputer atau perangkat teknologi lainnya sebagai media atau komunikasi.

Era digital juga merupakan waktu dimana ada akses yang luas, siap dan mudah berbagi, dan penggunaan informasi yang dapat diakses secara elektronik. Era digital juga disebut sebagai era informasi dan komunikasi karena banyak penelitian dilakukan mengenai pengumpulan, pengolahan dan transfer informasi di era digital.

Di era digital, informasi telah berkembang pesat di seluruh dunia. Banyak teknologi baru sedang dikembangkan untuk memfasilitasi operasi dan perdagangan sehari-hari. Beberapa informasi telah dipindahkan dari format fisik ke format elektronik.

Perangkat modern seperti smartphone, komputer seluler, PDA, dan tablet merupakan kreasi era digital dan sangat penting bagi generasi baru (terutama Milenial, Generasi Z, Generasi Alpha). Vorobiova (2021) menjelaskan perkembangan dari era digital (Digital Age).

Menurutnya, era digital sejatinya bukan hanya satu hal yang bersifat monolitik melainkan merupakan rangkaian langkah-langkah progresif. Saat ini kita mungkin hanya berada di tengah-tengah transformasi antara era pra-digital dan era pasca-digital.

Untuk benar-benar memahami kemajuan ini, penting untuk melihat dari mana era ini berasal, serta ke mana era ini akan menuju.

  • Pre-Digital: Meskipun fase ini belum terlalu lama, periode teknologi pre digital kerap dilihat sebagai nostalgia. Selama fase ini, ritel masih menjadi sarana utama untuk mendapatkan barang dan jasa.
  • Mid-Digital: Fase pertengahan digital adalah di mana kita berada sekarang.
  • Post-Digital: Di era pasca-digital, internet akan tersedia di mana-mana dan beragam teknologi super canggih seperti mobil pintar dan rumah pintar akan menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Kemudian Perkembangan teknologi digital yaitu:

  • Perkembangan Komputer
  • Lahirnya Internet
  • Telpon seluler
  • Situs jejaring sosial

ETIKA DIGITAL Siberkreasi & Deloitte (2020, dalam Kusumastuti dkk (2021) merumuskan etika digital (digital ethics) sebagai kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan dan mengembangkan tata kelola etika digital (netiquet) dalam kehidupan sehari-hari.

Bahwa menggunakan media digital mestinya diarahkan pada suatu niat, sikap, dan perilaku yang etis demi kebaikan bersama. Demi meningkatkan kualitas kemanusiaan.

Apalagi di Indonesia yang multikultur, maka etika digital sangat relevan dipahami dan dipraktekkan oleh semua warga Indonesia. K. Bertens (2014, dalam Astuti, 2021) mendefinisikan etika sebagai sistem nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya.

Berbeda dengan etiket yang didefinisikan sebagai tata cara individu berinteraksi dengan individu lain atau dalam masyarakat. Jadi, etiket berlaku jika individu berinteraksi atau berkomunikasi dengan orang lain.

Sementara etika berlaku meskipun individu sendirian. Hal lain yang membedakan etika dan etiket ialah bentuknya, etika pasti tertulis, misal kode etik Jurnalistik, sedangkan etiket tidak tertulis (konvensi).

Dalam dunia digital, kita juga mengenal etika berinternet, atau netiquette (network etiket), yaitu tata krama saat berhubungan dengan internet. Hal terpenting tentang netiket adalah Anda harus menyadari bahwa Anda selalu berinteraksi dengan orang sungguhan di jaringan lain, bukan hanya karakter di layar, tetapi juga karakter manusia yang sebenarnya.

Pengguna media digital memiliki kemampuan untuk membuat dan menerapkan aturan dan etiket (netiket) di Internet, pedoman perilaku yang benar atau yang melanggar etiket, pengetahuan dan pengalaman interaksi dan transaksi di dunia digital, dan etika digital.Memiliki keterampilan evaluasi. Netiket diperlukan untuk memanajemen interaksi pengguna internet yang berasal dari seluruh dunia.

Paling tidak terdapat beberapa alasan mengenai pentingnya netiket dalam dunia digital, antara lain (Astuti, 2021):

  • Kita semua manusia bahkan sekalipun saat berada di dunia digital, jadi ikutilah aturan seperti dalam kehidupan nyata
  • Pengguna internet berasal dari bermacam negara yang memiliki perbedaan bahasa, budaya dan adat istiadat
  • Pengguna internet merupakan orang yang hidup dalam anonymouse, yang mengharuskan pernyataan identitas asli dalam berinteraksi

Bermacam fasilitas di internet memungkinkan seseorang untuk bertindak etis / tidak etis. RUANG PUBLIK VIRTUAL YANG SESUAI ETIKA DIGITAL Media sosial merupakan ruang publik virtual yang paling banyak penghuninya.

Menurut Shina, dkk (2021), interaksi yang terjadi pada ruang digital harus memperhatikan etika digital yang akan membantu mengatur batasan sikap dan perilaku dalam menggunakan media digital.

Jika etika digital tidak diterapkan maka akan terjadi tindakan bullying, berita palsu (hoax), pelecehan seksual, pornografi, ujaran kebencian di dunia digital. Oleh karena itu, untuk menghindari hal tersebut setiap pengguna internet harus memahami dan menerapkan etika dalam berinteraksi di internet.

Penerapan netiket di ruang digital mempunyai tantangan besar karena etiket dipengaruhi oleh kepribadian dari masingmasing individu dan penguasaan soft skill literasi digital (Kusumastuti et al., 2021).

Keberadaan netiket dalam mengatur perilaku pengguna internet di dunia digital dirasa sangat penting mengingat pengguna internet berasal dari berbagai negara yang mana terdapat perbedaan budaya dan bahasa.

Berdasarkan sasaran interaksinya, netiket terbagi dalam dua jenis.

  • one to one communications, komunikasi antara satu individu dengan individu lainnya melalui suatu dialog. Komunikasi dua arah ini bisa terjadi melalui email, dan pesan pribadi di berbagai media.
  • one to many commmunication, komunikasi antar individu dengan beberapa orang. Komunikasi ini terjadi melalui chat di grup atau postingan di media sosial, blog, dan situs web.

Etika tidak hanya tentang kepantasan, melainkan juga menyangkut pertanggungjawaban. Karena apabila kita tidak berhati-hati dan menjaga etika saat berinteraksi di media sosial, maka kita akan mendapatkan mudaratnya.

Selain itu kita juga akan berhadapan dengan hukum dan menjadi masalah buat kita. ETIKA BERKOMUNIKASI DI RUANG DIGITAL Mutiah dkk (2019) menjelaskan bahwa etika komunikasi berhubungan erat dengan bahasa. Simbol, bahasa, atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih.

Bahasa dapat juga dianggap sebagai sistem kode verbal, sedangkan komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang menggunakan pesan-pesan nonverbal. Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi diluar kata-kata terucap dan tertulis.

Secara teoritis, komunikasi nonverbal dan komunikasi verbal dapat dipisahkan. Namun dalam kenyataannya, kedua jenis komunikasi ini saling jalin menjalin, saling melengkapi dalam komunikasi yang kita lakukan sehari-hari. Etika komunikasi dalam pelaksanaannya terutama tercermin dalam komunikasi yang santun. Ini juga mencerminkan kesopanan pribadi kita.

Komunikasi seperti urat nadi koneksi kehidupan yang mengekspresikan, berinteraksi, mengidentifikasi, dan bekerja sama dengan kepribadian, sifat, atau kepribadian seseorang. Kita hanya dapat memahami apa yang orang pikirkan, rasakan, dan inginkan melalui komunikasi yang saling memahami dan mengekspresikan diri melalui saluran yang berbeda, baik verbal maupun nonverbal.

Pesan yang disampaikan melalui komunikasi dapat memberikan efek positif dan sebaliknya. Komunikasi memiliki nilai lebih positif jika peserta komunikasi mengetahui dan menguasai keterampilan komunikasi yang baik dan bertindak secara etis. Maka dari itu Etika komunikasi tidak hanya dari kata-kata yang baik, tetapi juga dari niat tulus yang diungkapkan dengan ketenangan, kesabaran, dan empati dalam komunikasi.

Bentuk komunikasi ini mengarah pada komunikasi dua arah yang ditandai dengan saling menghormati, perhatian dan dukungan dari pihak-pihak yang berkomunikasi. Komunikasi etis merupakan isu penting dalam upaya mengkomunikasikan saat ini.

Dalam kehidupan sehari-hari menyampaikan keinginan, masih ada beberapa kekhawatiran tentang perilaku komunikasi yang buruk. Etika komunikasi seringkali terpinggirkan karena tidak ditetapkan sebagai urat nadi kehidupan masyarakat atau bangsa.

Etika berkomunikasi yang baik di media sosial adalah tidak menggunakan bahasa yang kasar, provokatif, pornografi, atau SARA. Harap jangan memposting barang palsu atau status. Jangan menyalin dan menempel artikel atau gambar berhak cipta atau menulis komentar terkait.

Baca Juga  Kepsek SD 19 Sukau Kayo Harapkan  Pemerintah Segera Rehab Sekolah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *